• Senin, 29 November 2021

Skeptis Itu Ciri-ciri Orang Cerdas & Jenius, Begini Pandangan Ilmu Filsafatnya

- Kamis, 25 November 2021 | 14:05 WIB
Ilustrasi cara berfikir otak (Foto:PortalRepublik/Instagram@narapatih_id)
Ilustrasi cara berfikir otak (Foto:PortalRepublik/Instagram@narapatih_id)

PORTAL REPUBLIK - Bisa dikatakan ciri-ciri orang cerdas dan jenius ini paling umum dan paling banyak diketahui yakni skeptis atau rasa ingin tahu yang besar.

Orang skeptis memahami bahwa menguji asumsi menyebabkan pengetahuan yang lebih luas, inovasi, dan kreativitas.

Agama, filsafat, sains,sejarah, psikologi, umumnya percaya bahwa setiap sumber pengetahuan memiliki batasnya.

Orang-orang cerdas menggunakan hasrat mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran. Orang cerdas dan jenius senang mempelajari hal-hal baru.

Baca Juga: Sifat Pelupa Bukanlah Hal Sepele, Pahami Penjelasan Medisnya

Hal Ini juga bisa dilihat dari kebiasaan membaca sehari-hari.

Orang cerdas dan jenius cenderung tidak mudah menyerah untuk terus belajar.

Mereka tak cuma hanya membaca buku namun juga berlatih di luar dan melakukan hal-hal yang mampu mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.

Pengertian skeptis menurut ilmu filsafat

Skeptis adalah bagian penting dari pemikiran kritis.

Istilah skeptis berasal dari bahasa Yunani yaitu skeptikos, yang berarti “untuk menanyakan” atau “melihat-lihat”.

Baca Juga: Kenali Ciri-ciri Orang Cerdas yang Jarang Disadari, Kamu Termasuk?

Orang skeptis biasanya membutuhkan bukti tambahan sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran.

Dari sudut pandang ilmu filsafat, skeptis adalah suatu sikap meragukan suatu informasi maupun pengetahuan yang telah diwariskan kepada umat manusia selama ini.

Berbagai ilmu yang tertulis di masa lampau dianggap bukan sesuatu hal yang pasti.

Di zaman Yunani Kuno, skeptis diartikan lebih jauh karena tak ada yang bisa mengklaim kebenaran, yang terbaik adalah menunda penilaian selama mungkin.

Pemikiran skeptis ini mendorong salah satu filsuf Eropa, Rene Descartes untuk melontarkan kritik yang kuat akan paham skeptisisme.

Descartes ingin membuktikan kebenaran tertentu adalah bawaan dan tidak dapat diganggu gugat.

Baca Juga: Memiliki Sifat Dewasa dan Keibuan, Berikut Zodiak yang Paling Suka Anak Kecil

Untuk melakukannya, dia mulai memilih setiap klaim kebenaran yang bisa dia pikirkan, termasuk bagaimana kita melihat dunia, dan menantangnya.

Bagi Descartes, persepsi tidak dapat diandalkan.

Anda mungkin berpikir dunia di sekitar anda nyata karena anda dapat mengalaminya melalui indera anda, tapi bagaimana anda tahu bahwa anda tidak sedang bermimpi?

Bagaimanapun mimpi pasti terasa nyata ketika anda berada di dalamnya.

Atau siapa tahu anda ternyata hidup di dalam dunia kecil dan ada dunia lain yang lebih besar, sedangkan manusia adalah percobaannya.

Garis pemikiran ini membuat Descartes mempertanyakan keberadaannya sendiri.

Di tengah kepanikan intelektual, akhirnya dia menyadari fakta yang tak terbantahkan bahwa ia sedang berpikir.

Dari sini dia menyimpulkan bahwa ‘jika saya berpikir, maka saya ada’.

Baca Juga: Metode SWITCH, untuk Ekspresikan Emosi Secara Sehat Agar Anak Tak Trauma Pengganti Marah

Kutipan terkenal “I think, therefore I am” pun muncul.

Orang skeptis cenderung akan lebih introvert dan senang melakukan segala hal seorang diri tanpa bantuan dari orang lain karena merasa tidak percaya jika sesuatu dikerjakan oleh orang lain. ***

Editor: Sarno

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Moh Limo Ajaran Walisongo Sunan Ampel

Jumat, 26 November 2021 | 18:49 WIB
X