• Jumat, 21 Januari 2022

Absennya Borjuasi Nasional

- Senin, 30 Agustus 2021 | 14:04 WIB
(Foto: PortalRepublik/ Facebook@Yudhie Haryono)
(Foto: PortalRepublik/ Facebook@Yudhie Haryono)

Oleh: Prof. M. Yudhie Haryono, Ph.D*

"Mengapa gerakan islam (partai politik dan ormas) selalu kalah di Indonesia?" tanya Prof Vedi R. Hadiz dalam kuliah umum di FISIP UI beberapa tahun lalu. Ia menjawab sendiri pertanyaan itu dengan berkata, "karena islam di Indonesia tidak memiliki borjuasi nasional." Satu kekalahan politik yang berdampak pada ketiadaan populisme islam yang pada gilirannya melahirkan kelompok frustasi yang dimakan oleh kapitalisme asing dengan menjadikan mereka martir terorisme di bumi nusantara ini.

Mengapa borjuasi dan konglomerasi muslim absen? Mengapa absennya mereka menjadi sebab kekalahan politik? Mengapa kekalahan politik mereka melahirkan terorisme? Tulisan ini ingin berbagi hipotesa soal kehancuran borjuasi pribumi, deindustrialisasi nasional dan menjamurnya radikalisme - terorisme muslim sebagai batu pertama kemenangan neoliberalisme di Indonesia.

Bagaimana kisahnya? Mari buka banyak buku. Kapitalisme di Indonesia memiliki akar kolonial yang sangat panjang. Ia mewujud seturut dengan faktor kesejarahan yang melingkupinya. Secara umum, bentuk-bentuk revolusi kapitalisme dikondisikan oleh: karakter pra-kolonial masyarakatnya, pengaruh kolonialisme terhadap masyarakat dan ekonomi, pembentukan dan perpecahan kelas-kelas di bawah pemerintahan kolonial, karakter konflik politik pasca kemerdekaan, posisinya dalam ekonomi internasional dan corak pemanfaatan sumber daya alamnya.

Masuknya kapitalisme di Indonesia mengambil pola yang beragam: melalui penaklukan atas penguasa lokal, aliansi politik dan pengaturan finansial, pemaksaan terhadap penguasa lokal atas ketersediaan hasil bumi melalui monopoli, akses terhadap tanah, tenaga kerja dan hasil bumi berdasar kebutuhan kolonialis.

Tetapi, di masa pasca kemerdekaan, terutama sejak Orde baru, kapitalisme masuk karena "diundang oleh begundal lokal" untuk memperkuat cengkraman politiknya. Dus, ada mutualisme di dalamnya. Kegiatan ini jadi perampokan yang direstui. Pencurian dan perampokan legal karena dilindungi UU. Hubungan resiprokal tanpa kritis via jalur sutra (silk road) berjejaring aseng dan via jalur orientalis (orientalism road) berjejaring asing.

Sungguh. Masuknya kapital yang dibawa oleh aseng-asing ternyata hanya imajinasi re-kapitalisasi Indonesia. Sebab ia hadir hanya untuk memastikan tumbuhnya deindustrialisasi. Memastikan kita menjadi pemasok mata rantai globalisasi saja: tak kurang, tak lebih.

Karenanya, industri lokal pribumi yang kuat (kopra, rokok, garam, herbal, rempah, garmen, perahu, kecantikan dll) dihancurkan dan dibeli murah lewat penciptaan krisis yang berulang.

Sebagai gantinya tumbuh industri perbudakan (TKI & TKW) dan industri korupsi yang luarbiyasa besar. Berubahlah kita dari bangsa produsen ke mamalia konsumen. Bahkan kini, konsumsi jadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional: siapapun menkeu dan presidennya. Tak ada satupun industri nasional hidup dan tumbuh. Bahkan wiraswastapun dijauhi. Jadi kelas paria yang dijijikkan. Terlebih, seluruh mata kuliah bisnis, wirausaha dan produsen diharamkan hadir.

Singkatnya, dalam konteks kesadaran borjuasi nasional, kita berhadapan dengan tiga problem:

Halaman:

Editor: Gahara Kumala

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Seni Musik, Ide, dan Renungan

Jumat, 29 Oktober 2021 | 13:47 WIB

Warganegara Unggul

Selasa, 14 September 2021 | 07:35 WIB

Kidung Kitab Kesentosaan

Senin, 13 September 2021 | 07:59 WIB

Agensi Neoliberalisme

Kamis, 9 September 2021 | 07:44 WIB

Krisis Negara Swasta

Rabu, 8 September 2021 | 14:55 WIB

Namanya Neoliberalisme

Senin, 6 September 2021 | 14:44 WIB

Indeks Kebahagiaan

Jumat, 3 September 2021 | 10:35 WIB

Mendaulatkan IDE

Rabu, 1 September 2021 | 09:01 WIB

Absennya Borjuasi Nasional

Senin, 30 Agustus 2021 | 14:04 WIB

Kepentingan Nasional

Jumat, 27 Agustus 2021 | 09:43 WIB

Daulat Kesehatan

Kamis, 26 Agustus 2021 | 11:25 WIB

Argumen Desa Berdaulat

Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:21 WIB

HARGA SEBUAH BANGSA

Jumat, 20 Agustus 2021 | 09:53 WIB

KEDAULATAN SOSIAL

Kamis, 19 Agustus 2021 | 16:32 WIB

DELUSI EKONOMETRIKA

Rabu, 18 Agustus 2021 | 15:20 WIB

KEMERDEKAAN kita Merdeka yang Bagaimana?

Senin, 16 Agustus 2021 | 20:33 WIB
X