• Jumat, 21 Januari 2022

Namanya Neoliberalisme

- Senin, 6 September 2021 | 14:44 WIB
(Foto : PortalRepublik/Facebook @ Yudhie Haryono)
(Foto : PortalRepublik/Facebook @ Yudhie Haryono)

Oleh: Prof. M. Yudhie Haryono, Ph.D*
Jika bukan kaum muda yang gerilya menikam mati gangster neoliberalisme, lalu siapa? Sebab kita tak mungkin lagi berharap sama tentara dan ulama. Keduanya hanya penjaga beludaknya neoliberal. Bukankan seorang ulama dan seorang tentara sudah pernah kita coba jadikan panglima? Dan, apa hasilnya: ulamanya pijat, tentaranya bersolek menjilat. Keduanya menipu rakyat walaupun sosok penggantinya juga belum bisa apa-apa.

Kenapa tidak bisa apa-apa? Sebab ia tak membangun pasukan perlawanan. Ia tak menjalankan laku konsolidasi barisan. Dus, konsolidasi adalah kunci. Seperti jejak para begundal neoliberal yang terus baris dalam pasukan solid.

Lalu apa neoliberalisme itu? Adalah paham ekonomi-politik yang mengacu pada filosofi ekonomi-politik liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik yang mengurangi atau menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada penciptaan distorsi dan high cost economy yang akan berujung pada tindakan KKN.

Tentu saja, paham ini beragama pasar bebas dan perdagangan bebas dengan merobohkan hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan keuntungan melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi antar negara.

Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara politis, menggunakan tekanan ekonomi, diplomasi, dan intervensi militer (kolonialisme modern). Tentu, pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.

Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti WTO, IMF dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan habisnya wewenang pemerintahan. Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham Keynesianisme) dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan.

Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya.

Baca Juga: Orang Nomor 1 Di Indonesia Joko Widodo Akan Mengunjungi Ponorogo Dan Kota Madiun

Ekonom Friedrich von Hayek dan Milton Friedman kembali mengulangi argumentasi klasik Adam Smith dan JS Milton yang menyatakan bahwa: masyarakat pasar kapitalis adalah masyarakat yang bebas dan produktif. Kapitalisme bekerja menghasilkan kedinamisan, kesempatan dan kompetisi. Kepentingan dan keuntungan pribadi adalah motor yang mendorong masyarakat bergerak dinamis.

Di Indonesia, madzab ini disebut sebagai geng atau mafia Berkeley. Mereka merancang secara sistematis kontrol ekonomi-politik Indonesia. Kebijakan ekonomi yang diambil berisi lima strategi utama, yakni:

Halaman:

Editor: Gahara Kumala

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Seni Musik, Ide, dan Renungan

Jumat, 29 Oktober 2021 | 13:47 WIB

Warganegara Unggul

Selasa, 14 September 2021 | 07:35 WIB

Kidung Kitab Kesentosaan

Senin, 13 September 2021 | 07:59 WIB

Agensi Neoliberalisme

Kamis, 9 September 2021 | 07:44 WIB

Krisis Negara Swasta

Rabu, 8 September 2021 | 14:55 WIB

Namanya Neoliberalisme

Senin, 6 September 2021 | 14:44 WIB

Indeks Kebahagiaan

Jumat, 3 September 2021 | 10:35 WIB

Mendaulatkan IDE

Rabu, 1 September 2021 | 09:01 WIB

Absennya Borjuasi Nasional

Senin, 30 Agustus 2021 | 14:04 WIB

Kepentingan Nasional

Jumat, 27 Agustus 2021 | 09:43 WIB

Daulat Kesehatan

Kamis, 26 Agustus 2021 | 11:25 WIB

Argumen Desa Berdaulat

Rabu, 25 Agustus 2021 | 11:21 WIB

HARGA SEBUAH BANGSA

Jumat, 20 Agustus 2021 | 09:53 WIB

KEDAULATAN SOSIAL

Kamis, 19 Agustus 2021 | 16:32 WIB

DELUSI EKONOMETRIKA

Rabu, 18 Agustus 2021 | 15:20 WIB

KEMERDEKAAN kita Merdeka yang Bagaimana?

Senin, 16 Agustus 2021 | 20:33 WIB
X